Selasa, 29 September 2009

Masa Akhir Kesultanan

Sejak ditandatanganinya perjanjian antara Kesultanan Banten dengan Belanda pada tanggal 17 april 1684 praktis kekuasaan Kesultanan Banten secara de facto dapat dianggap tidak lagi memiliki kedaulatan penuh. Pada tahun ini pula Kompeni Belanda sudah mulai turut campur dalam struktur pemerintahan Belanda, termasuk merestui untuk pengangkatan para Sultan.

Untoro (2007) dalam diskripsinya membagi masa kesultanan Banten menjadi dua bagian, yakni masa Maulana Hasanuddin sampai dengan masa pemerintahan Sultan Haji dan masa pemerintahan Sultan Haji sampai dengan masa-masa sultan sesudahnya.

Sebelum Sultan Haji diperkirakan Banten belum banyak dipengaruhi Belanda. Pada masa tersebut Banten masih berdiri secara mandiri bahkan mengalami masa kejayaannya. Sebagai negara Mahardika, Banten mampu menentukan nasibnya sendiri, termasuk membuka hubungan politik maupun hubungan dagang dengan siapa yang dikehendakinya.

Pada masa Sultan Haji dan setelahnya Banten sangat tergantung kepada Belanda, bahkan menjadi jajahan Belanda. Alasan inilah kemudian dijadikan patokan bahwa sejak tahun 1684 Banten tidak lagi menjadi negara yang berdaulat penuh. Sultan Haji sangat mengandalkan bantuan militer dan bantuan ekonomi Belanda, bahkan bersama-sama Belanda berhasil menyingkir Sultan Ageung Tirtayasa, ayahnya dari kekuasaannya sebagai Sultan Banten yang syah, berakibat Banten tidak lagi memiliki kedaulatan penuh, bahkan Belanda sangat mempengaruhi struktur pemerintahan Banten.

Perjanjian Banten pada masa Sultan Haji tentunya mengikat Banten maupun para sultan penggantinya. Disisi lain ketidak mandirian Banten berakibat lemahnya perekonomian negara maupun politis. Ada sementara pendapat yang juga mengatakan bahwa kondisi ini hanya memposisikan para sultan sebagai lambang dan tidak memiliki kekuasaan yang sebenarnya.

Sultan Abdu’i Fadhl Muhammad Yahya pewaris takhta Sultan Haji, memiliki sikap yang berbeda dengan ayahnya dan sangat menentang Belanda. Sultan Abdu’i berupaya juga menata kembali Banten karena hancur akibat kerusuhan dan pemberontakan. Ia pun wafat pada tahun ketiga pemerintahannya dan dikebumikan di sebelah makam Maulana Hasanudin di Sedakinging. Sayangnya ia tidak memiliki keturunannya yang dapat melanjutkan cita-citanya. Sebagai pengantinya kemudian tahta Banten diberikan kepada adiknya.

Sampai dengan tahun 1802, penobatan Sultan dilakukan dengan upacara yang sangat meriah. Dari Keraton Surosowan, Benteng Kompeni dan Kapal-kapal Belanda saling bersahutan buniy meriam. Sultan pun tak lupa memberikan hadiah bagi para penghuni istana dan masyarakat, sekalipun dengan materi yang berbeda. Para punggawa dari berbagai daerah yang masih berada didalam kekuasaan Banten berdatangan menghaturkan sembah, seperti dari Lampung. Memang ada kesan bahwa Surosowan masih dianggap kesultanan. pusat kekuasaan dan upacara.

Untoro (2007) berkesimpulan, bahwa :

pengesahan jabatan penguasa Banten sangat diperlukan agar dunia luar terutama wilayah taklukannya secara langsung maupun tidak langsung mengakui kedaulatan Kesultanan Banten, yang divisualkan dalam wujud upacara penobatan. Pengakuan serupa itu diperlihatkan pula oleh Belanda, yang menembakan meriam dari pusat hunian mereka di benteng Speedwijk serta dari atas kapal-kapal perangnya. Secara politik, peristiwa tersebut menandakan adanya hubungan baik antara Banten dengan Belanda, yang sebelumnya kerap terjadi berbagai bentuk perselisihan.

Semasa pemerintahan Sultan Abdul Fathi terjadi beberapa kali pemberontakan. Hal ini akibat dari tindakan kesewenang wenangan Belanda, antara lain dengan menetapkan lain tanam paksa untuk komoditi tebu, kopi dan rempah-rempah. Demikian pula dibidang perdagangan, Belanda memiliki monopoli dan memaksakan rakyat agar menjual seluruh komoditinya kepada Belanda.

Kemudian Untoro menyitir pendapat dari catatan Heeken (1856), seorang petugas pencatat dari pihak Belanda tentang suasana pelantikan tersebut.

Menjelang hari penobatan tiba, rombongan Belanda berangkat dari rumah komisaris denga iring-iringan, pasukan tombak dan panah dalam pakaian daerah, pemain musik yang memainkan lagu-lagu, 34 orang pasukan berkuda, diiringi oleh kereta yang ditarik 6 ekor kuda, yang sebelumnya didahului oleh pasukan berjalan kaki dan merupakan pelayan komisaris. Kereta selanjutnya diisi oleh pejabat militer dan para Saudagar Belanda yang merangkap pula sebagai panitia upacara. Tidak lama kemudian rombongan sultan yang didampingi oleh kepala pedagang bernama pinchette, beserta para pangeran datang naik kereta yang indah. Tidak lupa regalia berupa payung kerajaan menyertai rombongan ini, masuk ke benteng Speelwijk.

Komisaris, sebagai wakil Pimpinan Pemerintahan Tertinggi untuk kesultanan Banten menyatakan bahwa ia diperintah untuk mengatur upacara suksesi ini sebaik-baiknya. Ia mengingatkan dalam bahasa Melayu yang baik tentang pentingnya peranan Kompeni bagi Banten sehingga sultan dapat dilantik pada hari itu, sudah selayaknyalah jika kewajiban Banten terhadap Kompeni harus senantiasa diperhatikan. Melalui adat kebiasaan berupa persembahan dua dulang perak dengan dua botol air mawar, komisaris dan sultan saling memerciki air, yang diikuti oleh kaum kerabat lainnya. Malam hari upacara dilanjutkan di rumah komisaris dengan suasana jamuan meriah diselingi minum-minuman dan tembakan sebanyak 21 kali untuk menghormati Gubernur Jendral dan Dewan Hindia Belanda, 19 kali Komisaris dan Pengeran Ratu, 13 kali untuk Ratu Latifa, para utusan perwakilan kantor dagang di Banten, kebahagiaabn para Pangeran dan kesembuhan pangeran Aliudin. Puncak rencana keramaian ditutup oleh minuman secara bersulang demi persahabatan.

Dari data yang sama Untoro memperoleh informasi, bahwa :

biaya penyelenggaraan tersebut sepenuhnya ditanggung oleh kesultanan, sehingga jelas disebut-sebut bahwa sebelum komisaris kembali ke Batavia, sultan menyerahkan uang sebesar 2000 uang Spanyol untuk dibagikan kepada pasukan yang terlibat dalam kegiatan itu. Sultan juga menyediakan seluruh bahan makanan dan buah-buahan untuk rombongan perutusan komisaris selama berada di Banten. Bahkan ketika komisaris akan kembali ke Batavia, sultan mengirimkan perbekalan 5 ekor sapi dan 2 ekor kerbau serta bahan pangan lain untuk orang pribumi yang ikut mengiringi rombongan komisaris.

Kisah diatas menggambarkan bahwa sekalipun Banten sudah berada diambang kehancuran, namun upacara penobatan yang memakan biaya tinggi tersebut dapat dilaksanakan dengan baik. Dalam peristiwa selanjutnya upacara penobatan Sultan semeriah itu tidak pernah lagi dilakukan, mungkinkan Banten sudah tidak lagi memiliki biaya dan Belanda tidak berniat menanggungnya.

Pada masa pemerintahan Sultan Muhidin intrik dari dalam keraton sudah sangat memuncak. Intrik ini diciptakan oleh para kerabat sultan. Puncak dari kekacauan ini berakibat terbunuhnya Sultan Muhidin oleh Tubagus Ali, salah seorang pengawal istana.

Jika dilihat dari istilah “wakil” untuk beberapa sultan, seperti Sultan Natawijaya, nampaknya ia hanya semacam raja (Sultan) panyelang – bukan trah langsung atau pewaris tahta langsung dari Sultan yang terdahulu, sama dengan gelar yang disandang oleh Sultan Syarifudin Ratu Wakil, bukan pewaris langsung Sultan Banten dan hanya seorang menantu dari istri sultan. Mungkin disini hanya mengisi kekosongan jabatan dari trah sultan Banten yang sebenarnya.

Masa terakhir kesultanan Banten nampak pada jaman Sultan Aliyudin II. Ia berselisih paham dengan Gubernur Jendral Hindia Belanda, yakni Herman Wiliam Daendels. Pada tahun 1808 Surosowan diserang Belanda. Sultan kemudian ditangkap dan diasingkan ke Ambon. Dan diagantikan oleh Sultan Wakil Pangeran Suramangala. Sekalipun jabatan Sultan Banten merupakan jabatan tertinggi di Banten namun ia tidak memiliki kekuasaan mutlak, mengingat kedaulatan Banten dianggap sudah tidak ada.

Menurut Untoro (2007 : 48) :

Kedaulatan Banten sebagai kesultanan Banten telah terhapus, bahkan sultan mendapat gaji sebesar 15.000 real setahun dari Belanda.. Sejak saat itu kesultanan Banten lenyap dari percaturan pusat pemerintahan yang mandiri dan selanjutnya dinyatakan sebagai daerah jajahan Belanda.

Kondisi demikian mendatangkan rasa tidak puas pada sebagaian rakyat, sehingga gangguan terhadap Belanda makin sering terjadi diwilayah bekas Kesultanan Banten. Daendels mencurigai kerusuhan tersebut didalangi oleh sultan terakhir ini, sehingga bersama pasukannya ia menangkap danm memenjartakan sultan di Batavia serta keraton Surosowan dihancur luluhkan dengan cara dibumi hanguskan.

Keluarga keraton yang masih hidup menyingkir ke keraton Kaibon yang letaknya + 1 Km dari Surosowan dan bertahan hingga beberapa tahun. Kemudian pada masa pendudukan Inggris, wilayah Banten dimasukan menjadi keresidenan Banten. Sultan Muhammad Syaifudin dipaksa turun tahta dan menyerahkan wilayah Banten kepada Inggris. Walaupun gelar sultan masih boleh digunakan namun secara resmi kesultanan Banten dihapuskan dan kehidupan sultan diberi tunjangan oleh Inggris sebesar 10.000 ringgit Sepanyol setahun. Untuk selanjutnya Banten dipegang oleh Muhamad Rafiudin. Pada tahun 1832 ia diasingkan ke Surabaya.

Bahan Bacaan :

Kapitalisme Pribumi Awal – Bab II, Gambaran Masyarakat di Kesultanan Banten, Heriyanti Ongkodharma Untoro, FIB UI – Cetakan Pertama – 2007.

Pasca Sultan Haji

Pada masa Sultan Haji dan setelahnya Banten sangat tergantung kepada Belanda, bahkan menjadi jajahan Belanda. Alasan inilah kemudian dijadikan patokan bahwa sejak tahun 1684 Banten tidak lagi menjadi negara yang berdaulat penuh. Sultan Haji sangat mengandalkan bantuan militer dan bantuan ekonomi Belanda, bahkan bersama-sama Belanda berhasil menyingkir Sultan Ageung Tirtayasa, ayahnya dari kekuasaannya sebagai Sultan Banten yang syah, berakibat Banten tidak lagi memiliki kedaulatan penuh, bahkan Belanda sangat mempengaruhi struktur pemerintahan Banten.

Sultan Abdu’i Fadhl Muhammad Yahya (1687-1690) pewaris takhta Sultan Haji. Ia memiliki sikap yang berbeda dengan ayahnya dan sangat menentang Belanda. Sultan Abdu’i berupaya juga menata kembali Banten karena hancur akibat kerusuhan dan pemberontakan.

Sultan Abdu’i Fadhl Muhammad Yahya tidak banyak terceritakan dalam sejarah Banten, kecuali sikapnya yang sangat membenci Belanda. Ia pun wafat pada tahun ketiga pemerintahannya dan dikebumikan di sebelah makam Maulana Hasanudin di Sedakinging.

Sayangnya ia tidak memiliki keturunannya yang dapat melanjutkan cita-citanya. Sebagai pengantinya kemudian tahta Banten diberikan kepada adiknya.

Sultan Abdul Mahasin Muhammad Zainul Abidin (1690-1733) adalah adik dari Sultan Abdu’i. Ia memiliki nama lainnya, yakni Kang Sinuhun Ing Nagari Banten. Penobatannya dilakukan dengan upacara yang sangat meriah. Dari Keraton Surosowan, Benteng Kompeni dan Kapal-kapal Belanda saling bersahutan buniy meriam. Sultan pun tak lupa memberikan hadiah bagi para penghuni istana dan masyarakat, sekalipun dengan materi yang berbeda. Para punggawa dari berbagai daerah yang masih berada didalam kekuasaan Banten berdatangan menghaturkan sembah, seperti dari Lampung. Memang ada kesan bahwa Surosowan masih dianggap kesultanan. pusat kekuasaan dan upacara.

Sultan Abdulfathi Muhammad Shifa Zainul Arifin (1733-1747) adalah pengganti Sultan Abdul Mahasin, putra keduanya. Namun tidak diceritakan, alasan apa sehingga tahta tersebut tidak diserahkan kepada putra tertuanya, sebagaimana lajimnya yang dilakukan raja-raja pada masa itu.

Di intern istana terjadi permasalahan, mengingat Sultan sangat dipengaruhi oleh permaisurinya (Ratu Syarifah Fatimah). Kemudian atas fitnah yang dilakukan istrinya tersebut Sultan kemudian ditangkap Belanda dan diasingkan ke Halmahera.

Sultan Syarifudin Ratu Wakil adalah adalah menantu Ratu Syarifah dari suami yang terdahulunya, seorang Letnan Melayu di Batavia. Ia diserahi jabatan Sultan Banten menggantikan Sultan Abdul Fathi yang dibuang ke Halmahera. Namun secara de facto kekuasaan Banten dikendalikan oleh Ratu Syarifah Fatimah. Karena dialah yang menentukan kesultanan Banten sejak jaman Sultan Abdulfathi dan Sultan Syarifudin.

Terhadap sikap Ratu Syarifah pada masa itu, pada umumnya rakyat banyak yang menentang dan melakukan pemberontakan. Tokoh pemberontakan yang paling terkenal saat itu dipimpin oleh Ki Tapa dan Ratu Bagus Buang.

Untuk meredam pemberontakan rakyat, Berlanda terpaksa menyingkirkan Ratu Syarifah ke Saparua, sedangkan Sultan Syarifudin disingkirkan ke Banda.

Sultan Abdulma’ali Muhammad Muhammad Wasi Zainul Arifin, sebelumnya bernama Pangeran Arya Adisantika. Sultan ini adalah adik kandung dari Sultan Abdulfathi Muhammad Shifa Zainul Arifin. Pemberian kekuasaan dilakukan oleh Belanda. Hal ini dapat pula menggambarkan bahwa pada waktu Belanda mampu menurunkan dan menaikan seorang Sultan Banten. Tentunya mengukuhkan pula anggapan bahwa pada waktu itu Belanda sudah menjadi penentu tertinggi di wilayah Banten.

Pengangkatan sultan disertai dengan beberapa perjanjian yang dianggap merugikan Kesultanan maupun rakyat Banten. Kemudian terjadi kembali pemberontakan rakyat, bahkan terjadi beberapa kekacauan diwilayah Banten.

Kekacauan yang terjadi di wilayah Banten mampu memaksa Belanda untuk menyetujui penyerahan kekuasaan Sultan kepada Pengeran Gusti, putra dari Sultan Zainul Arifin yang sebelumnya diasingkan ke Sailon.

Sultan Abdul Nasr Muhammad Arif Zainul Asiqin (1953-1973) atau Pengeran Gusti adalah putra tertua dari Sultan Zainul Arifin yang sebelumnya diasingkan ke Sailon. Tidak banyak yang diceritakan tentang kondisi Banten ketika Pangeran Gusti berkuasa. Ia wafat dan digantikan oleh putranya.

Sultan Abdul Mufakir Muhammad Aliudin (1973-1799) adalah putra dari Sultan Abdul Nasr. Pada masa pemerintahanya intrik dari intern keraton sudah mulai nampak, namun ia masih mampu mempertahankan tahtanya hingga ia wafat.

Sultan Abdul Muhammad Muhidin Zainussolihin (1799-1801) sebelum naik tahta bernama Pangeran Muhidin. Ia adik kandung dari Sultan Abdul Mufakir yang memperoleh tahtanya setelah kakaknya wafat.

Sekalipun Banten sudah berada diambang kehancuran, namun upacara penobatan yang memakan biaya tinggi tersebut dapat dilaksanakan dengan baik. Dalam peristiwa selanjutnya upacara penobatan Sultan semeriah itu tidak pernah lagi dilakukan, mungkinkan Banten sudah tidak lagi memiliki biaya dan Belanda tidak berniat menanggungnya.

Pada masa pemerintahan Sultan Muhidin intrik dari dalam keraton sudah sangat memuncak. Intrik ini diciptakan oleh para kerabat sultan. Puncak dari kekacauan ini berakibat terbunuhnya Sultan Muhidin oleh Tubagus Ali, salah seorang pengawal istana.

Sultan Abdul Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin (1801-1802) putra dari selir Sultan Aliudin. Ia menggantikan Sultan Abdul Muhidin sebagai Sultan Banten. Ia wafat pada tahun 1802, hanya satu tahun memegang kesultanan Banten.

Sultan Wakil Pengeran Natawijaya (1802-1803), ia menggantikan Sultan Abdul Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin. Ia hanya memerintah selama satu tahun dan wafat pada tahun 1803.

Sultan Aliyudin II (1803-1808) adalah putra kedua dari Sultan Aliyudin. Ia menggantikan Sultan Wakil Pangeran Natawijaya. Ia menjabat menduduki tahta kesultanan Banten selama lima tahun.

Sultan Aliyudin II berselisih paham dengan Gubernur Jendral Hindia Belanda, yakni Herman Wiliam Daendels. Pada tahun 1808 Surosowan diserang Belanda. Sultan kemudian ditangkap dan diasingkan ke Ambon.

Sultan Wakil Pangeran Suramangala (1808-1809) diangkat oleh Belanda untuk menggantikan Sultan Aliyudin II. Sekalipun jabatan Sultan Banten merupakan jabatan tertinggi di Banten namun ia tidak memiliki kekuasaan mutlak, mengingat kedaulatan Banten dianggap sudah tidak ada.

Menurut Untoro (2007 : 48) :

Kedaulatan Banten sebagai kesultanan Banten telah terhapus, bahkan sultan mendapat gaji sebesar 15.000 real setahun dari Belanda.. Sejak saat itu kesultanan Banten lenyap dari percaturan pusat pemerintahan yang mandiri dan selanjutnya dinyatakan sebagai daerah jajahan Belanda.


Kemudian pada masa pendudukan Inggris, wilayah Banten dimasukan menjadi keresidenan Banten. Sultan Muhammad Syaifudin dipaksa turun tahta dan menyerahkan wilayah Banten kepada Inggris. Walaupun gelar sultan masih boleh digunakan namun secara resmi kesultanan Banten dihapuskan dan kehidupan sultan diberi tunjangan oleh Inggris sebesar 10.000 ringgit Sepanyol setahun. Untuk selanjutnya Banten dipegang oleh Muhamad Rafiudin. Pada tahun 1832 ia diasingkan ke Surabaya.

Bahan Bacaan :

Kapitalisme Pribumi Awal – Bab II, Gambaran Masyarakat di Kesultanan Banten, Heriyanti Ongkodharma Untoro, FIB UI – Cetakan Pertama – 2007.

Senin, 28 September 2009

Sultan Haji

Sultan Haji atau Sultan Abunnasar Abdulkahar putra dari Sultan Ageung Tirtayasa pewaris Kesultanan Banten. Ia mendapatkan tahtanya bekerja sama dengan Belanda setelah menggulingkan ayahnya. Hal ini menimbulkan banyak spekulasi, mengingat jika ia pewaris syah dari Kesultanan Banten seharusnya tanpa melakukan coup terhadap ayah nya iapun dapat menerima tahta tersebut.

Masalah ini dimungkinkan ketidak sabaran Sultan Haji untuk segera menduduki jabatannya, karena ada putra Sultan Ageung lainnya yang dianggap mampu menggantikan Sultan Ageung atau Sultan merasa kurang sreg terhadap perilaku Sultan Haji. Namun dimungkinkan pula ada hasutan Belanda, mengingat hubungan Belanda dengan Sultan Ageung dan para pendahulunya kurang baik. Sedangkan jika mendukung Sultan Haji maka Belanda akan lebih mudah menguasai perdagangan di Banten.

Spekulasi terakhir ini yang mungkin paling mendekati, mengingat ada simbiosa mutualisma antara Belanda yang bertujuan melancarkan kepentingan dagangnya dan Sultan Haji yang mengincar jabatan kesultanan. Ketika terjadi peperangan antara Sultan Ageung Tirtayasa dan Sultan Haji yang dibantu Belanda istana habis terbakar, tidak sedikit pula perkampungan menjadi musnah.

Sejak Sultan Haji bertahta banyak peristiwa-peristiwa yang sangat merugikan Kesultanan Banten, baik masalah perekonomian negara maupun perpolitikannya. Banyak sudah pemberontakan yang dilakukan rakyat termasuk para pendukung setia Sultan Ageung. Tabiat Sultan Haji dalam menghadapi Belanda pun sangat bertolak belakang dengan para pendahulunya. Sultan Haji sangat mengandalkan bantuan militer dan bantuan ekonomi Belanda, berakibat Banten tidak lagi memiliki kedaulatan penuh, bahkan Belanda sangat mempengaruhi struktur pemerintahan Banten.

Untoro (2007) menyebutkan, sejak ditandatanganinya perjanjian pada tanggal 17 april 1684 praktis kukuasaan Kesultanan Banten dapat dianggap runtuh. Lebih lanjut menyebutkan :

Perjanjian antara Kesultanan Banten dengan Belanda ditandatangani di Keraton Surasowan, dibuat dalam bahasa Belanda dan Jawa dan Melayu. Penanndatanganan dari pihak Kompeni dilakukan oleh komandan dan presiden komisi Franscois Tack, Kapten Herman Dirkse Wendepoel, Evenhart van der Schuere serta Kapten bangsa Melayu, Wan Abdul Kahar, sedangkan dari pihak Banten dilakukan oleh Sultan Abdul Kahar, pangeran Dipaningrat, Kiyai Suko Tadjudin, pangeran Natanegara, dan pangeran Natawijaya (Tjandrasasmita : 1967 : 54). Sejak perjanjian tersebut Kompeni secara langsung aktif menentukan monopoli perdagangan Banten.

Memang ada beberapa peninggalannya yang monumental, ia membangun daerah-daerah yang rusak akibat perang, selain itu ia membangun kembali istana Surosowan. Untuk membangun istana Surasowan iapun meminta bantuan Cardeel, seorang arsitek Belanda. Iapun mengganti cara berpakaian dari berpakaian ala Banten menjadi cara berpakaian Arab, sekalipun pernah ditentang oleh Sultan Ageung ketika ia masih berkuasa.

Sultan Haji meninggal dan dimakamkan di Sedakingkin, sebelah utara mesjid Agung, sejajar dengan makam Sultan Ageung Tirtayasa. Sultan Haji dikarunia beberapa orang anak, antara lain Pengeran Ratu yang kemudian menggantikan tahtanya sebagai Sultan Banten yang dikenal dengan sebutan Sultan Abdu’i Fadhl Muhammad Yahya (1687-1690).

Bahan Bacaan :

Kapitalisme Pribumi Awal – Bab II, Gambaran Masyarakat di Kesultanan Banten, Heriyanti Ongkodharma Untoro, FIB UI – Cetakan Pertama - 2007

Sultan Abdul Kadir (1596-1651)




Surat Pangeran Ratu Kepada Raja Inggris (James I - 1605

Ketika Pangeran Muhammad wafat putranya, yakni Sultan Abdukadir Mufakhir Mahmud Abdul Kadir baru berusia lima bulan. Hal ini sama dengan peristiwa yang dialami ayahnya ketika ditinggalkan Panembahan Yusuf. Untuk menjalankan roda pemerintahan Banten maka pemerintahan dijalankan oleh Mangkubumi Jayanegara.
Banyak peristiwa penting yang terjadi pada masa Sultan Abdul Kadir, terutama ketika Belanda untuk kali pertama menginjakan kakinya di Banten, terutama pengaruhnya terhadap status kehidupan perekonomian Banten.
Pada tahun tahun 1602 dengan di bentuknya suatau persatuan dagang belanda atau Vereesnigde Oost Indische Compagnie (VOC), atau dikenal dengan istilah Kompeni, mereka mendirikan kantor perwakilannya di Banten. Kumpeni Belanda sangat berlainan dengan strateginya yang terdahulu, yang memberikan keleluasaan bagi pertumbuhan perdagangan, namun Kompeni lebih banyak menjalankan kekuasaan dagangnya dengan cara menggunakan strategi politik yang berupaya menguasai wilayah secaa politis.
Kekuasaan Mangkubumi
Sekalipun perdagangan berkembang pesat dan Inggris membuka perwakilan daganya namun pasca wafatnya Mangkubumi Jayanegara dikeraton Banten terjadi peristiwa sebaliknya, terjadi perpecahan diantara para pangeran serta para pembesar negara, serta kurang arifnya para Mangkubumi pengganti Mangkubumi Jayanegara dalam menjalankan tugasnya. Hal ini berlangsung hingga Mangkubumi Ranamanggala yang diangkat sebagai wali sultan, mengingat Sultan masih terlalu muda untuk menjalankan tugasnya.
Untuk mengembalikan kondisi negara Mangkubumi Ranamanggala menindak tegas para pangeran dan bangsawan yang melanggar hukum. Kemudian ia pun merubah struktur perdagangan lada yang telah ditetapkan oleh penguasa (Mangkubumi) sebelumnya, para pengganti Mangkubumi Jayanegara yang semula hanya boleh dijual oleh orang Cina kepada Belanda. Peraturan tersebut membolehkan setiap penjualan lada dibeli dan dijual kepada siapa saja, tidak ada monopoli.
Monopoli yang dilakukan pedagang Cina dan Belanda sangat merugikan perekomonian Banten. Peristiwa ini menggambarkan, bahwa memang telah terjadi semacam kerjasama antara Kapitalisme (Cina dan Belanda) dengan para Mangkubumi yang bertindak sebagai penguasa Banten. Serta hanya menguntungkan para personel penguasa dan pedagang tersebut.
Dengan dicabutnya sistim monopoli ini maka Banten dapat memperbaiki perekonomiannya kembali, namun berbeda halnya dengan pihak Belanda yang merasa dirugikan dengan pencabutan monopoli ini. Tak heran jika banyak para pedagang Belanda maupun pihak-pihak lainnya yang terkait dengan masalah ini mengangap Mangkubumi Ranamanggala sebagai pihak yang lalim. Selain itu, sikap ketegasan Mangkubumi Ranamanggala sering membuahkan perselisihan dengan pihak Belanda dan Pangeran Jayakarta.
Penyerahan Tahta
Pada tahun 1624 Sultan Abdul Kadir telah dianggap dewasa dan ia diserahi takhta Banten. Dengan demikian Banten dopimpin oleh seorang keturunan yang syah, sesuai dengan garis kesultananannya.
Pada masa awal banyak tugas yang harus diselesaikan oleh Sultan Abdul Kadir, terutama akibat dari keputusan-keputusan yang diambil oleh para Mangkubumi sebelumnya. Pada masa itu hubungan Banten dengan Belanda sudah sangat memburuk dan terjadi beberapa pertempuran di wilayah Banten, seperti di Tanahara, Anyer dan Lampung. Kondisi yang diuntungkan Banten karena secara bersamaan Belanda sedang menghadapi beberapa pertempuran dengan Mataram dan Makasar. Untuk kemudian Belanda mengajukan genjatan senjata.
Masalah lain yang dihadapi Sultan Abdul Kadir adalah menghadapi serangan Cirebon. Untuk menghadapinya Sultan menyiapkan berpuluh-puluh armada perang. Ia pun menyediakan hadiah sebesar 2.000 real bagi siapa saja yang berjasa membantu Banten. Pada kahirnya Banten memenangkan pertempuran ini, untuk kemudian dikenal dengan peristiwa Pagerage.
Sultan Abdul Kadir dikenal pula dengan kesalehannya. Ia memiliki lima orang anak. Sultan sangat mendalami ilmu agama dan sekaligus mengajarkan tentang agama kepada istri-istri dan anak-anaknya. Sultan Abdul Kadir dikenal pula sebagai pemimpin yang sangat peduli terhadap rakyatnya. Seringkali pada setiap malam ia mengendap-ngendap keluar istana dan mendengarkan keluhan rakyatnya. Ia pun acapkali memberikan bantuan kepada rakyatnya yang miskin. Peristiwa ini mengingat pada cerita tentang Sultan Harun Al Rasyid didalam Hikayar Seribu Satu Malam.
Sultan Abdul Kadir Wafat pada tahun 1651 dan dimakamkan di Kenari. Sedangkan tahtanya diserahkan kepada cucunya yang bergelar Pangeran Adipati Anom.

Bahan Bacaan :

1. Kapitalisme Pribumi Awal – Bab II, Gambaran Masyarakat di Kesultanan Banten, Heriyanti Ongkodharma Untoro, FIB UI – Cetakan Pertama - 2007

2. Perang, Dagang, Persahabatan - Surat-surat Banten, Oleh : Titik Pudjiastuti - Yayasan Obor Indonesia 2007

Pangeran Muhammmad (1580-1596)

Ketika Panembahan Yusuf wafat usia Pengaran Muhamad masih berumur 9 tahun, sehingga dianggap belum mampu memegang tampuk pimpinan Banten. Untuk mengisi kekosongan jabatan maka tugas kenegaraan dijalankan oleh seorang Mangkubumi. Pangeran Muhammad dapat menjalankan tugasnya ketia dianggap telah dewasa.

Pangeran Muhammad bergelar Kangjeng Ratu Banten. Ia memiliki cita-cita seperti Sultan-sultan sebelumnya, yakni menyebarkan agama islam dan memperbesar wilayah Banten, dengan cara menguasai bekas-bekas kerajaan Pajajaran dan Palembang.

Niat ekspansi ini sama halnya dengan yang dilakukan Penembahan Yusuf, hanya bertujuan spiritual. Namun tidak dapat dipungkiri, Banten pada masa itu sudah ada dalamka tagori sebagai negara makmur, sehingga ekspansi wilayah pun tidak mengganggu kondisi perekonomian negara.

Pengeran Muhammad dikenal karena kesalehannya. Selain itu Pangeran Muhammad juga mampu memajukan Banten sebagai kota perdagangan. Bahkan seluruh penjualan lada dari daerah lampung harus dilakukan melalui pelabuhan Banten.

Kecuali bangsa Belanda, pada masa itu sudah banyak para pedagang asing yang bermukim di Banten. Belanda sendiri pertama kali menjejakan kakinya di Banten pada tanggal 22 Juni 1596, atau beberapa pasca wafatnya Pengeran Muhammad.

Suatu ketika dengan menggunakan kekuatan 200 kapal perang ia bertolak ke Palembang untuk tujuan memerangi kekafiran. Namun Pangeran Muhammad terbunuh didalam peperangan tersebut. Dan jenasahnya dikebumikan dihalaman mesjid Agung Banten. Kemudian ia dikenal dengan sebutan Pangeran Seda Ing Palembang atau Pangeran Seda Ing Rana.

Manurut Djajadinigrat Tahta Pangeran Muhammad kemudian diserahkan kepada putranya, yakni Pangeran Kadir. Ketika peristiwa wafatnya Pangeran Muhammad, Pangeran Kadir baru berumur lima bulan.

Bahan Bacaan :

Kapitalisme Pribumi Awal – Bab II, Gambaran Masyarakat di Kesultanan Banten, Heriyanti Ongkodharma Untoro, FIB UI – Cetakan Pertama - 2007

Maulana Yusuf (1570-1580)

Panembahan Hasanudin digantikan oleh putranya, yakni Panembahan Yusuf, putra dari pernikahannya dengan puteri Indrapura. Maulana Yusuf disebut-sebut menikah dengan Ratu Winaon dan berputra Pangeran Muhammad, kelak dikemudian hari Pangeran Muhammad mewarisi takhtanya. Panembahan Yusuf dimakamkan diluar kota Banten dan dikenal dengan sebutan Pangeran Pasarean.

Pada masa pemerintahannya, Maulana Yusuf membangun saluran-saluran dan benteng yang terbuat dari batu bata merah dan karang. Disinyalir pula ia memperluas mesjid Agung yang dibangun Maulana Hasanudin, serta membangun mesjid di Kasunyatan. Pada masa tersebut Banten dikenal kepenjuru dunia sebagi pusat pemerintahan di Jawa Barat dan perdagangan.

Tentang pembangunan Banten pada masa Panembahan Yusuf diabadikan didalam naskah Banten, dan menyebutnya, sebagai : gawe kuta buluwarti bota kalawan kawis. (membangun kota dengan menggunakan bata dan karang, terutama untuk kubu pertahanan). Selain itu juga membangun perkampungan, sawah ladang, dan bendungan.

Panembahan Yusuf tertarik untuk menyebarkan agama Islam keseantero Jawa Barat. Ia pun memperkuat wilayah negaranya da mempersiapkannya dengan matang, terutama setelah Hasanudin Gagal menghancurkan Pakuan untuk yang kedua kalinya. Penyerangan tersebut dilakukan setelah sembilan tahun Panembahan Yusuf memegang tahta kerajaan Surasowan. Serangan tersebut mendapat bantuan dari kerajaan Cirebon, sehingga disebut serangan besar-besaran ke Pakuan.

Serangan Banten ke Pakuan diabadikan dalam Serat Banten :

Nalika kesah punika

Ing sasih muharam singgih

Wimbaning sasih sapisan

Dinten ahad tahun alif

Puningka sangkalanya

Bumi rusak rikih iki

(Waktu keberangkatan itu – terjadi bulan muharam – tepat pada awal bulan – hari ahad tahun alif – inilah tahun sakanya – satu lima kosong satu).

Kondisi di Pakuan pasca ditinggalkan oleh Prabu Nilakendra, sudah tidak berfungsi sebagai ibukota. Sebagian penduduk telah mengungsi ke wilayah pantai selatan, membuat pemukiman baru didaerah Cisolok dan Bayah. Sebagian lagi meninggalkan Pakuan mengungsi ke timur, diantaranya terdapat pembesar kerajaan, Senapati Jayaprakosa beserta adik-adiknya.

Sebagian penduduk Pakuan yang ada pertalian darah kekerabatan dengan keluarga keraton, ikut mengungsi dengan satu-satunya raja yang bersedia meneruskan tahta Pajajaran, yaitu Sang Ragamulya Suryakancana, putra Prabu Nilakendra. Ia mengungsi ke wilayah barat laut, tepatnya di lereng Gunung Pulasari Pandeglang, Kampung Kadu Hejo, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang.

Dari sekian bagian penduduk yang mengungsi, ada sebagian lagi yang mencoba bertahan di Pakuan, bersama beberapa orang pembesar kerajaan yang ditugaskan menjaga dan mempertahankan keraton Sri Bima-Punta-Narayana-Madura-Suradipati (keraton Pajajaran). Walaupun sudah tidak berfungsi, kehidupan di Pakuan pulih kembali.

Prabu Ragamulya Suryakancana bersama pengikutnya, berupaya menegakkan kembali Kerajaan Pajajaran, dengan ibukotanya di Pulasari. Ia bertahta tanpa mahkota, sebab semua perangkat dan atribut kerajaan telah dipercayakan kepada Senapati Jayaprakosa dan adik-adiknya untuk diselamatkan. Mungkin juga pemilihan Pulasari pada waktu itu karena masih ada raja daerah, Rajataputra, bekas ibukota Salakanagara. Namun ada juga yang menyebutkan, bahwa Pulasari bukanlah ibukota seperti yang lajim digambarkan dalam suatu pemerintahan. Pulasari waktu itu sebagai Kabuyutan, daerah yang dikeramatkan. Digunakan oleh Suryakancana untuk mendekatkan diri dengan Tuhan.

Sepeninggalnya Nilakendra, Pakuan masih memiliki aktifitas seperti biasanya, namun memang sudah tidak lagi digunakan sebagai persemayamannya raja Pajajaran. Benteng Pakuan memiliki pertahanan yang sangat kuat. Bukan karena ada parit-parir dan benteng-benteng pertahanan yang dahulu dibangun Sri Baduga Maharaja, melainkan juga soliditas dan ketangguhan sisa-sisa prajurit Pajajaran yang masih bermukim dibenteng.

Kehancuran Pakuan berdasarkan versi Banten dikarenakan ada pengkhianatan dari “orang dalam yang sakit hati”. Konon terkait dengan masalah jabatan. Saat itu ia bertugas menjaga pintu gerbang dan membukanya dari dalam untuk mempersiapkan pasukan Banten memporakporandakan Pakuan. Benteng Pakuan akhirnya dapat ditaklukan. Penduduk Pakuan yang dengan susah payah membangun kembali kehidupannya pasca penyerangan kedua kembali dilanda bencana maut. Mereka dibinasakan tanpa ampun. keraton Sri Bima-Punta-Narayana-Madura-Suradipati yang dijadikan simbol Pajajaran dibumi hanguskan.

Pasca penghancuran Pakuan kemudian Banten mengarahkan serangannya ke Pulasari, Prabu Ragamulya Suryakancana bersama pengikutnya yang setia berupaya melawan sekuat tenaga. Namun pada akhirnya Ragamulya Suryakancana bersama pengikutnya gugur di Pulasari.

Menurut Wangsakerta dalam Pustaka Rajyarajya Bhumi Nusantara parwa III sarga I halaman 219. : Pajajaran sirna ing bhumi ing ekadaci cuklapaksa Wesakhamasa saharsa limangatus punjul siki ikang cakakala. (Pajajaran lenyap dari muka bumi tanggal 11 bagian terang bulan Wesaka tahun 1501 Saka” bertepatan dengan tanggal 11 Rabiul’awal 987 Hijriyah, atau tanggal 8 Mei 1579 M).


Bahan bacaan :

1. Rintisan penelusuran masa silam sejarah Jawa Barat, jilid 4, 1983– 1984.

2. Sejarah Jawa Barat, Drs Yoseph Iskandar, Geger Sunten – Bandung, 1997

3. Kapitalisme Pribumi Awal – Bab II, Gambaran Masyarakat di Kesultanan Banten, Heriyanti Ongkodharma Untoro, FIB UI – Cetakan Pertama - 2007

Sultan Ageng Tirtayasa (1631-1672)

Pangeran Adipati Anom bergelar Pangeran Ratu Ing Banten. Ia cucu dari Sultan Abdulmafakir Mahmud Abdul Kadir yang wafat pada 1651 M, dikebumikan di Kenari.

Pada masa pemerintahan Pangeran Adipati Anom, ia membangun tempat peristirahannya didesa Pontang Tirtayasa. Istana tersebut disinyalir sebagai tempat pengintaian daerah Tangerang dan Batavia. Kemudian ia lebih dikenal dengan sebutan Sultan Ageng Tirtayasa.

Sultan Ageng Tirtayasa sama halnya dengan leluhurnya yang sangat membenci Belanda. Ia disinyalir sering melakukan perlawanan terhadap Belanda dengan cara membakar kebun tebu, menghadang pratoli belanda dan mengacaukan benteng-benteng Belanda.

Untuk memperkuat posisi politiknya melakukan hubungan dengan Inggris, Turki, Denmark dan Perancis. Bahkan pernah mendapat bantuan senjata api dari Denmark. Ia pun menggalang persahabatan dengan Makasar, Aceh, India, Mongol, Turki dan Mekah, serta dengan Lampung, Bengkulu, Cirebon, Karawang, Sumedang dan Mataram.

Kemampuan diplomasi dan keberhasilan memakmuran negaranya disamping mampu menjaga jarak dengan kekuasaan Belanda dengan baik maka ia mampu menjadikan Banten sebagai negara yang berdaulat. Namun disaat usianya yang tua ia digulingkan oleh Sultan Haji, anaknya sendiri yang bekerjasama dengan Kompeni – Belanda. Pada akhirnya ia meninggal didalam penjara dan dikebumikan di utara masjid Agung Banten.


Bahan Bacaan :

Kapitalisme Pribumi Awal – Bab II, Gambaran Masyarakat di Kesultanan Banten, Heriyanti Ongkodharma Untoro, FIB UI – Cetakan Pertama - 2007